Jakarta – Di Kampung Nelayan Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, banjir rob bisa naik sampai satu meter. Selama bertahun-tahun warga tinggal dengan lantai rumah yang lebih rendah dari air pasang. Sekarang ratusan keluarga di sana tinggal di rumah yang lantainya berdiri di atas genangan itu. PT Panca Karya Unggul Abadi (PKUA) ikut membangunnya.
PT Panca Karya Unggul Abadi pernah mengerjakan konstruksi hunian pesisir ini bersama PT PAL Indonesia dan Universitas Pertahanan (Unhan). Kolaborasi ketiganya menghasilkan 200 unit rumah panggung dan rumah apung di kawasan tersebut. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait meninjau lokasi pada Sabtu, 18 Januari 2025, dan memastikan program ini berlanjut.
Proyek Hunian Pesisir yang Berlanjut ke Tahap Berikutnya

Pada tahap lanjutan, pemerintah menargetkan 30 unit rumah panggung baru: 14 unit di RT 06 dan 16 unit di RT 07, dengan waktu pengerjaan 75 hari. Pendanaannya berasal dari program CSR PT Harum Energi.
“Saya senang rencana pembangunan rumah panggung selanjutnya selama 75 hari sehingga para penerima bantuan tidak terlalu lama menunggu,” kata Maruarar, dikutip dari laman resmi Kementerian PKP.
Setiap unit berisi satu kamar tidur, ruang tamu, toilet dengan akses air bersih, listrik tenaga surya, dan perabot dasar. Lantainya ditinggikan supaya rumah tetap kering saat air pasang.
Ranjang susun dipilih dengan pertimbangan yang jelas. Di hunian dengan luas terbatas, perabot vertikal membuat satu kamar bisa dipakai beberapa anggota keluarga tanpa menghabiskan ruang gerak. Karena lokasinya di pesisir, material dan finishing-nya juga harus tahan terhadap udara lembap dan kadar garam tinggi.
Kebutuhan energi setiap unit dipenuhi dengan listrik tenaga surya yang juga didukung PT Panca Karya Unggul Abadi. Dengan sistem ini, rumah tetap punya penerangan dan listrik dasar tanpa bergantung penuh pada jaringan konvensional. Ini penting untuk permukiman yang rawan genangan.
Amin, salah satu penerima manfaat, merasakan bedanya. “Rumah saya sebelumnya tidak layak huni karena banjir rob, setelah dapat bantuan ini lebih tinggi,” ujarnya.
Pabrik Sendiri, Satu Kendali dari Struktur hingga Perabot
Membangun di pesisir punya tantangan yang lebih berat dibanding lahan biasa. Tanahnya jenuh air, udaranya korosif, akses logistiknya sempit, dan jadwalnya ketat karena warga menunggu. Pengalaman di proyek seperti ini menunjukkan kemampuan kontraktor mengelola struktur, material, dan jadwal sekaligus dalam kondisi yang tidak ideal.
Kapasitas itu datang dari cara PT Panca Karya Unggul Abadi bekerja. Perusahaan yang berkantor pusat di Gandoang, Cileungsi, Kabupaten Bogor, ini mengoperasikan dua fasilitas produksi sendiri: pabrik Mekarsari untuk pekerjaan kayu dan panel, serta pabrik Gandoang untuk fabrikasi produk furniture dan interior. Karena produksinya dikerjakan sendiri, mutu dan waktu pengiriman bisa dikontrol dari hulu tanpa bergantung penuh pada pemasok luar.
Design and Build dalam Satu Kendali
PT Panca Karya Unggul Abadi bekerja dengan skema design and build. Perencanaan, konstruksi, pekerjaan MEP (mekanikal, elektrikal, dan plambing), interior fit-out, dan furnitur custom ditangani satu tim. Bagi pemilik proyek, artinya cukup satu kontrak dan satu penanggung jawab, dengan risiko yang lebih kecil saat pekerjaan berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Portofolionya mencakup kementerian, rumah sakit, BUMN, universitas, dan sektor swasta.