Kisaran Today – Bagi DJ Xylos, pendidikan bukan sekadar bagian dari perjalanan akademik, melainkan salah satu cara untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Di tengah kesibukannya sebagai ASN PPPK dan DJ di Bali, pria bernama asli Chandra Hendrawan (25) tersebut masih terus melanjutkan pendidikan dan bahkan kembali mengambil program S1 di bidang lain pada 2026.
Keputusan untuk terus belajar sebenarnya sudah terbentuk sejak ia masih kecil. Chandra tumbuh di Kepulauan Sula, Maluku Utara, bersama ayahnya yang bekerja sebagai tukang kayu. Ia pernah tinggal di sebuah kamar kayu sederhana di atas bukit yang dikelilingi hutan, dalam kondisi tanpa listrik dan internet.
Untuk mendapatkan air sehari-hari, ia harus berjalan menuju sumur yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat tinggal. Sementara perjalanan ke sekolah harus ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 35 menit hingga satu jam. Kondisi tersebut membuat pendidikan menjadi sesuatu yang sangat ia hargai, meskipun sejak awal tidak memiliki banyak fasilitas untuk mendukung proses belajar.
Latar belakang keluarganya juga membuat Chandra terbiasa mencari informasi mengenai pendidikan dan masa depan secara mandiri. Kedua orang tuanya tidak pernah mengenyam pendidikan formal, sehingga banyak keputusan mengenai sekolah dan rencana hidup harus ia tentukan sendiri.
“Orang tua saya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan tidak banyak mengajarkan tentang perencanaan masa depan. Karena itu saya belajar mencari tahu semuanya sendiri,” ujarnya.
Sejak usia 16 tahun, Chandra mengaku sudah tidak lagi meminta uang kepada kedua orang tuanya. Ketika memasuki jenjang SMA, ia memilih sendiri sekolah yang seluruh biaya pendidikannya ditanggung negara. Pilihan tersebut diambil karena ia tidak ingin menambah beban ekonomi keluarga.
Keputusan tersebut sekaligus menjadi awal dari prinsip yang terus dibawanya hingga dewasa. Menurutnya, jika ingin mengubah kondisi kehidupan, pendidikan merupakan salah satu jalan yang harus ditempuh.
“Dari dulu saya berpikir, kalau ingin mengubah hidup, saya harus belajar. Tidak ada jalan lain,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA pada 2021, Chandra kemudian merantau ke Bali. Ia datang bukan hanya untuk mencari pengalaman baru, tetapi juga untuk membangun kehidupan sekaligus melanjutkan pendidikan.
Di Bali, ia harus menjalani pekerjaan dan kuliah secara bersamaan. Penghasilan yang diperoleh saat itu masih di bawah upah minimum, tetapi kondisi tersebut tidak membuatnya mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan. Selama bertahun-tahun, waktu dan tenaga dibagi antara pekerjaan dan bangku kuliah.
Rutinitas tersebut kemudian mulai membuahkan hasil. Pada 2024, Chandra berhasil menjadi ASN PPPK. Setahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan S1 dan melanjutkan studi ke jenjang S2.
Bagi sebagian orang, menyelesaikan satu jenjang pendidikan setelah bekerja sudah cukup menjadi pencapaian. Namun bagi Chandra, proses belajar justru belum berhenti. Pada 2026, ia kembali mengambil program S1 di bidang lain.
“Satu-satunya hal yang membuat saya kecanduan adalah belajar,” ungkapnya.
Keputusan untuk kembali menempuh pendidikan di tengah kesibukan sebagai ASN dan DJ bukan tanpa tantangan. Aktivitas pekerjaan, perkuliahan, serta kegiatan musik harus diatur sedemikian rupa agar tidak saling mengganggu.
Namun, pengalaman menjalani pekerjaan sambil kuliah sejak pertama merantau ke Bali membuatnya terbiasa dengan rutinitas tersebut. Ia memahami bahwa waktu yang dimiliki terbatas, sehingga setiap aktivitas harus dijalankan dengan disiplin dan tanggung jawab.
Bagi Chandra, pendidikan juga tidak selalu harus dipandang dari sisi gelar. Proses belajar memberikan kesempatan untuk memahami perspektif baru, menambah kemampuan, sekaligus membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Prinsip tersebut kemudian ia terapkan dalam kehidupan profesionalnya. Setelah menjadi ASN, ia tetap mencari ruang untuk mengembangkan kemampuan di bidang lain, termasuk musik elektronik.
Di dunia musik, ia menggunakan nama panggung DJ Xylos. Nama tersebut berasal dari kata Yunani “xylo” yang berarti kayu dan dipilih sebagai penghormatan kepada sang ayah yang berprofesi sebagai tukang kayu.
“Xylos bukan sekadar nama panggung. Nama itu mengingatkan saya pada asal-usul, perjuangan, dan kerja keras ayah yang membawa saya sampai di titik ini,” jelasnya.
Ketika mulai serius menekuni dunia DJ, Xylos juga kembali menempatkan dirinya sebagai seorang pembelajar. Ia banyak mendapatkan pembelajaran dari DJ senior Oman Bean, terutama mengenai industri hiburan, membangun relasi, memahami karakter audiens, dan memperluas jaringan profesional.
Menurutnya, proses belajar tidak berhenti ketika seseorang sudah memiliki pekerjaan atau mulai dikenal di bidang tertentu. Justru ketika memasuki lingkungan baru, seseorang harus kembali membuka diri untuk menerima pengetahuan dan pengalaman.
Pandangan tersebut terlihat dari perjalanan Xylos di dunia musik. Dalam beberapa waktu terakhir, ia mulai tampil di berbagai venue dan acara di Bali, mulai dari Avera Bali Nightclub hingga Thank God It’s Festival (TGIF) Bali di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) dalam rangkaian kegiatan bersama Indosat.
Selain nightclub dan festival, ia juga mendapat kesempatan mengisi berbagai acara lain, seperti wedding after party, private party di sailing boat, event running, hingga perayaan ulang tahun.
Bagi Xylos, keberagaman acara tersebut merupakan bentuk pembelajaran lain. Setiap event memiliki karakter audiens dan kebutuhan yang berbeda sehingga ia harus mampu beradaptasi dengan suasana yang ada.
“Setiap event punya karakter yang berbeda. Kalau di nightclub mungkin energinya lebih tinggi, sementara wedding, private party, atau running event punya suasana yang berbeda. Buat saya justru itu yang membuat perjalanan sebagai DJ menjadi menarik karena selalu ada hal baru yang bisa dipelajari,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bagi Xylos tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pekerjaan, lingkungan profesional, maupun panggung musik juga menjadi ruang untuk mendapatkan pengetahuan baru.
Sebagai ASN, ia belajar mengenai tanggung jawab profesional. Sebagai mahasiswa, ia terus mengembangkan kemampuan akademik. Sementara sebagai DJ, ia belajar memahami industri kreatif dan karakter berbagai jenis audiens.
Ketiga bidang tersebut berjalan bersamaan dalam kehidupan Xylos saat ini. Ia tidak melihat adanya batas bahwa seseorang hanya boleh memiliki satu bidang yang ditekuni.
Menurutnya, selama setiap tanggung jawab dapat dijalankan dengan baik, seseorang tetap memiliki ruang untuk mengejar minat dan mengembangkan kemampuan lain.
Perjalanan tersebut tentu tidak terlepas dari pengalaman masa kecilnya. Hidup tanpa listrik dan internet, berjalan kaki menuju sekolah, serta tumbuh dalam keluarga sederhana membuatnya memahami bahwa kesempatan untuk belajar tidak selalu datang dengan mudah.
Karena itu, ketika memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, ia memilih untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.
Ia juga tidak ingin masa mudanya hanya dihabiskan untuk mencari kenyamanan. Bagi Xylos, masa muda merupakan periode untuk membangun fondasi kehidupan melalui pendidikan, pekerjaan, pengalaman, dan jaringan.
“Gapapa masa muda saya tidak seperti orang lain pada umumnya. Yang penting saya terus bergerak maju. Saya percaya hasil tidak pernah mengkhianati usaha,” tuturnya.
Kini, perjalanan pendidikan Xylos masih terus berlangsung. Di saat banyak aktivitas profesional yang sudah dijalaninya, ia tetap memilih duduk kembali sebagai mahasiswa untuk mempelajari bidang baru.
Keputusan tersebut sekaligus menjadi gambaran mengenai prinsip yang selama ini ia pegang: tidak berhenti belajar hanya karena satu pencapaian sudah diraih.
Dari seorang anak yang pernah berjalan kaki hingga satu jam untuk pergi ke sekolah di pedalaman Maluku Utara, Chandra kini memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi di Bali. Ia telah menyelesaikan S1, melanjutkan S2, dan kembali mengambil S1 di bidang lain.
Di luar pendidikan, ia juga berhasil membangun karier sebagai ASN sekaligus mulai mengembangkan nama DJ Xylos melalui berbagai kesempatan tampil di Bali.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa proses belajar dapat berlangsung dalam berbagai bentuk. Gelar akademik menjadi salah satu hasilnya, tetapi pengalaman bekerja, membangun karier, mengenal industri musik, dan bertemu berbagai orang juga menjadi bagian dari proses yang sama.
Xylos berharap perjalanan pendidikannya dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarganya. Ia ingin setiap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Bagi dirinya, tidak ada istilah terlambat untuk belajar. Selama masih memiliki kesempatan, ia ingin terus mencoba memahami hal-hal baru.
Dari kehidupan sederhana di Kepulauan Sula hingga menjadi ASN, mahasiswa, dan DJ di Bali, perjalanan DJ Xylos menunjukkan bahwa pendidikan baginya bukan sekadar tentang mendapatkan gelar.
Pendidikan menjadi bagian dari cara ia membentuk dirinya, membuka peluang, dan menentukan arah kehidupan yang ingin dibangun.
Dan meskipun kini telah menjalani berbagai peran, satu hal yang tidak berubah dari dirinya sejak dulu adalah keinginan untuk terus belajar.