Advertorial

Cegah Risiko Amputasi, Mahasiswa UMY Teliti Nanohidrogel Kolagen Ikan Nila untuk Ulkus Diabetikus

Kisaran Today Diperbarui 22:13 2 menit membaca
Cegah Risiko Amputasi, Mahasiswa UMY Teliti Nanohidrogel Kolagen Ikan Nila untuk Ulkus Diabetikus
Ukuran Teks:

Yogyakarta – Ulkus diabetikus masih menjadi salah satu komplikasi diabetes melitus yang paling ditakuti karena proses penyembuhannya lambat dan berisiko tinggi berujung pada amputasi. Menjawab persoalan tersebut, lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang tergabung dalam tim COLLANILA mengembangkan riset berjudul “Nanohidrogel Peptida Kolagen Sisik Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebagai Modulator TGF-β1 pada Ulkus Diabetikus”.

Riset ini diketuai oleh Iyyaka Kautshar Pinta Rizka, beranggotakan Clarissa Rafeyfa Zahirah, Zata Lini F, Karima Alya Maheswari, dan Baiq Lala Eka Anansi Aisyah Purya S, dan dibimbing langsung oleh Dr. dr. Titiek Hidayati, M.Kes., Sp.DLP, Sp.KKLP., FISCM., FISPH.. Proyek ini merupakan salah satu penerima pendanaan PKM Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

“Banyak pasien diabetes yang akhirnya harus menjalani amputasi karena luka di kaki mereka tidak kunjung sembuh. Kami ingin mencari pendekatan baru yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka tersebut sejak dari sisi molekuler,” ujar Iyyaka Kautshar Pinta Rizka menjelaskan latar belakang risetnya.

Tim memfokuskan riset pada peptida kolagen yang diekstraksi dari sisik ikan nila, kemudian diformulasikan menjadi sediaan nanohidrogel. Sediaan ini dirancang untuk memodulasi TGF-β1, salah satu faktor pertumbuhan yang berperan penting dalam mengatur proses regenerasi jaringan pada luka kronis.

Proses pembuktian ilmiahnya dilakukan melalui beberapa tahap metode, yaitu ekstraksi dan karakterisasi kolagen, uji in vitro untuk menilai respons pada tingkat sel, uji in vivo pada model hewan untuk mengamati efek langsung terhadap proses penyembuhan luka, serta pendekatan in silico untuk memprediksi mekanisme interaksi molekulernya.

Dr. dr. Titiek Hidayati, M.Kes., Sp.DLP, Sp.KKLP., FISCM., FISPH. menyampaikan bahwa pendekatan berlapis semacam ini penting agar hasil riset memiliki dasar ilmiah yang kuat sebelum dikembangkan lebih lanjut.

“Kombinasi metode in vitro, in vivo, dan in silico memungkinkan mahasiswa memahami suatu fenomena biologis secara lebih komprehensif, dari tingkat molekuler hingga sistem hidup,” jelasnya.

Tim COLLANILA berharap risetnya dapat memberi kontribusi nyata dalam upaya menekan angka komplikasi dan amputasi akibat ulkus diabetikus di Indonesia, sekaligus membuka jalan bagi pengembangan terapi berbasis bahan alam lokal yang lebih terjangkau.

###

Narahubung: Iyyaka Kautshar Pinta Rizka (Ketua Tim COLLANILA, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY))

Tinggalkan komentar